Dulu saya adalah anak
sekolah yang agak sulit diatur. Semua yang saya inginkan harus dituruti hari
itu juga dan egois . Lama berselang saya keluar dari sekolah menengah
kejuruan.dan disat itulah saya giat mencari kerja alhamdulillah saya diterima
dalam sebuah resto dijakarta .yang sebelumnya melalui banyak proses seleksi
yang di berikan dari sekolah di jawa tengah tepatnya klaten.waktu berlalu cepat
,dan saya harus pergi jauh dari ayah saya.
awalnya merasa senang karna jauh
dari pengawasan dan aturan, hari berlalu 7 hri tepatnya saya berada dijakarta
sepanjang malam dan siang saya hanya menangis merasakan kerja dalam rumah makan
,setiap ditelfone ayah pun saya menyembunyikan tekanan dalam keadaan pekerjaan
saya pada ayah, takut jika ayah mengetahui malah membuatnya sedih,, lama
berlalu dengan keadaan hati yang semakin engga betah sya memutuskan pulang
kampung sehari setelah mendapatkan gaji pertma bekerja selepas sekolah yang
tidak seberapa hanya 700.000 .dengan uang itu saya yang tidak mengetahui jalan
pulang dari tangerang ke stasiun pasar senen pun nekat dengan bermodal bertanya
orang’’ sekitar. Alhamdulillah smpai ke stasiun pasar senen jakarta pusat, saat
itu pun hari-hari liburnya anak skolah setelah ujian alhasil ramai dan
kehabisan tiket, ya tuhan begitu beratnya mandiri di kota rantau ini batinku
berteriak, dengan tekat bulat saya bertanya kepada penjual karcis jika tidak
pkai tempat duduk apakah masih boleh naik dan alhamdulillah bisa , walaupun
kecewa karna harga ttap sama namun dduk di depan pintu kereta , semua itu saya
jadikan pelajaran hidup mandiri itu harus kuat mental dan hati seperti yang
ayah selalu bilang namun tak kudengar, sebulan lamanya saya berada dirumah
dengan perasaan tak tega ayah saya mencarikan saya kerja, dan dapat lah di
sebuah pt , sejak subuh ia mengantar karna jarak dari rumah ke pt jauh dan kami
pun tidak mengetahui alamt pasti pt itu dmana. Waktu beranjak siang dan sya
sampai ke tempat tujuan tepat waktu , ayah menunggu diluar pt dengan hati yang
berharap semoga saya diterima, sejak jam 7 sampai jam 5 sore ia menunggu terus
dengan rasa terkantuk-kantuk dan panas, ayah dengan sabar menunggu,, dengan
wajah semringah saya pun keluar dengan membwa berita baik bahwa doa ayah
terkabul, dengan semngat dan rasa kantuk hilang syah membawaku pulang,, waktu
berlalucepat dengan rutinitas sama setiap pagi ayah mengantarkankudan pulang
menjemputku, dengan sabar ia melakukanya walaupun aku tak jarang membuatnya
jengkel.
Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti pengorbanan ayah
menafkahi anak istrinya itu tak mudah , terlbih mendidik ku dengan sabar,
seorang diri. Bulan telah berganti dan tahun sekarang aku bekerja dalam
lingkungan yang sangat baik untuk kehidupan rohani dan jasmani ku, aku mampu
membuatnya bangga dengan segudang perubahanku yang selalu patu dengannya,menjadi
anak perempuan yang menutup aurat(berjilbab) ,mampu mengangkat derjatnya di
mata masyarakat yang mampu mendidik q seorang diri menjadi wanita tangguh
mandiri,berpendidikan lebih dari yang lain,,
Walaupun saat ini aku masih mengejar sarjanaku, namun itu
membuatnya bangga, ta sia-sia ia menemaniku siang malam , menuruti semua mauku
,dan berbicara filosofi hidup dari pengalamanya.
Disini penulis mau memberuitahukan jika semua arahan aturan
dari kedua orangtua itu demi kebaikan diri kita sendiri,untuk mencpai yang
lebih dari mereka,senangkan mereka kedua orangtua kita,buatnya merasa bangga
sebelum semuanya terlambat,dan doakan mereka sehat selalu untuk dapat menemani
kita smpai nanti sukses dan menikmati kesuksesan kita,,,






0 comments:
Post a Comment