FENOMENA
TAWURAN DAN CABE CABEAN
Terjadinya
tawuran, mengakibatkan norma-norma menjadi terabaikan. Selain itu, menyebabkan
terjadinya perubahan pada aspek hubungan sosial masyarakatnya.. Hampir setiap
minggu, berita itu menghiasi media massa. Bukan hanya tawuran antar pelajar
saja yang menghiasi kolom-kolom media cetak, tetapi tawuran antar polisi dan
tentara, antar polisi pamong praja dengan pedagang kaki lima, sungguh
menyedihkan. Sehingga masyarakat indonesia sudah tidak asing lagi untuk
mendengar kata tawuran.
Perilaku anarki
selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat. Mereka itu sudah tidak
merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan bisa mengganggu ketenangan
masyarakat. Sebaliknya mereka merasa bangga jika masyarakat itu takut dengan
geng kelompoknya.
Seorang pelajar
seharusnya tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu. Biasanya
permusuhan antar sekolah dimulai dari masalah yang sangat sepele. Namun remaja
yang masih labil tingkat emosinya justru menanggapinya sebagai sebuah
tantangan. Pemicu lain biasanya dendam Dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi
para siswa tersebut akan membalas perlakuan yang disebabkan oleh siswa sekolah
yang dianggap merugikan seorang siswa atau mencemarkan nama baik sekolah
tersebut. Sebenarnya jika kita mau melihat lebih dalam lagi, salah satu akar
permasalahannya adalah tingkat kestresan siswa yang tinggi dan pemahaman agama
yang masih rendah.
Fenomena tawuran antar pelajar yang terjadi disebabkan berbagai pandangan
sesuatu yang beda penyebab lain bisa seperti adanya perubahan sosial, adanya
perasaan tidak senang atau dendam, perbedaan kepentingan antar individu /
kelompok dan juga buruknya komunikasi. Akibatnya dengan adanya konflik tersebut
dapat menimbulkan perpecahan, rusaknya sarana dan prasarana umum, meningkatnya
keresahan masyarakat, lumpuhnya roda perekonomian, hancurnya harta benda dan
jatuhnya korban jiwa. Tetapi dengan adanya konflik memunculkan beberapa akibat
positif antaranya meningkatkan solidaritas kelompok, mendorong kekuatan pribadi
untuk menghadapi berbagai situasi konflik, munculnya norma baru, mendorong
kesadaran kelompok yang berkonflik untuk melakukan kompromi.
Konflik tawuran yang terjadi bila hubungkan dengan teori Lewis Coser
yaitu konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan penyesuaian, dapat
memberi peran positif atau fungsi positif dalam masyarakat. Dengan kata lain
tawuran yang terjadi tidak hanya memberikan hal-hal negatif terhadap
masyarakat, tetapi hal positif dalam situasi tertentu dan kepada siapa positif
itu di terima. Tipe konflik dari konflik realitas sumber dari tawuran bisa dari
asal usul, sesuatu yang diunggulkan dari siswa, dengan mencemooh, kualitas
sekolah. Konflik non realistis sebab tawuran yaitu sumbernya dari ke tidak
rasional, ideologis siswa tawuran seperti masalah harga diri, dendam.
Selanjutnya konflik eksternal dengan adanya tawuran menciptakan dan mempererat
identitas kelompok, meningkatkan partisipasi anggota terhadap pengorganisasian
kelompok, perhatian orang tua dan guru dalam mendidik siswa - siswinya. Teori
internal dengan memberikan koreksi pada perilaku tawuran anggota kelompok.
Menurut Koentjaraningrat dalam perilaku menyimpang
terdapat pengendalian sosial yaitu dengan : (1) Pengendalian sosial bersifat
preventif, adalah semua bentuk pencegahan terhadap terjadinya gangguan pada
keserasian antara kepastian dan keadilan, atau dengan kata lain tindakan
preventif adalah tindakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya
pelanggaran-pelanggaran terhadap norma-norma sosial.
(2) Pengendalian
sosial bersifat represif adalah pengendalian sosial yang bertujuan untuk
mengembalikan keserasian yang pernah terganggu karena terjadinya suatu
pelanggaran. Pengendalian sosial secara represif dilakukan dengan cara
menjatuhkan sanksi sesuai dengan besar-kecilnya pelanggaran yang dilakukan.
(3) Pengendalian intrinsik dan ekstrinsik, pengendalian
intrinsik adalah pengendalian oleh diri seorang individu dengan berfikir secara
jernih, sabar, dan jujur sehingga seseorang tidak terjerumus ke dalam
tindakan-tindakan yang menyimpang, di dalam ilmu jiwa, alat pengendali ini
dinamakan hati nurani, hati nurani pada dasarnya selalu bersifat jujur dan
benar, seakan merupakan petunjuk Tuhan kepada umat-Nya secara abstrak dan
spiritual. Pengendalian ekstrinsik, adalah pengendalian terhadap perilaku
menyimpang oleh pihak lain antara lain bisa dilakukan oleh orang tua, keluarga
dan kerabat, pihak tokoh agama, dan masyarakat, serta aparatur negara
seperti kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan.
(4) Pengendalian
internal dan eksternal, pengendalian sosial internal adalah pengendalian sosial
yang berasal dari dalam lembaga itu sendiri, misalnya pada Departemen
Pendidikan Nasional ada aparat pengendali yang di sebut inspektur jenderal /
hingga para pengawas di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan
tinggi, semua bentuk pengawasan ataupun pengendalian yang dilakukan dari dalam
lembaganya sendiri disebut pengendalian sosial internal. Pengendalian
eksternal, merupakan pengendalian sosial yang berasal dari luar lembaga,
misalnya oleh kepolisian atau oleh tokoh-tokoh masyarakat selaku pengamat
pelaksanaan
Fenomena cabe-cabean booming pada akhir 2013 dan awal
2014 ini.
Mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing lagi
dengan fenomena Anak alay dan segala isitilah-istilahnya,
mulai dari cara berpakaian hingga cara berbicara. walaupun sempat surut ditahun
2013 kini muncul lagi istilah baru di tahun 2014 yakni gadis Cabe-cabean.
Kini “spesies baru” gadis cabe-cabean diperkenalkan
sebagai tren mutakhir. Tidak jelas siapa yang mulai mempopulerkannya. Istilah
ini menyebar secara viral dan dikenal luas karena dianggap mencerminkan
sejumlah remaja zaman sekarang.
Cabe-cabean adalah sebutan bagi remaja putri yang
senang keluyuran malam dan nongkrong di balapan liar. Usia mereka umumnya sama,
kisaran SMP dan SMA.
Cabe-cabean sebenarnya hanya merujuk pada gadis belia
usia SMP dan SMA yang senang keluyuran malam dan nongkrong di dunia balap liar.
Sementara terong-terongan terjadi pada remaja pria disebut dengan fenomena
terong-terongan. Umumnya fenomena ini melanda remaja pria usia 13 hingga 18
tahun. Biasanya remaja pria ini senang dengan kehidupan malam, suka tawuran,
dan menghisap ganja.
Berikut cara mengenal atau mengidentifikasi Gadis
Cabe-cabean.
3B: Behel, Blackberry dan Berponi
Ciri untuk mengenali Gadis Cabe-cabean dan
Terong-terongan adalah 3B, Behel, Blackberry dan Berponi. Behel yang asalnya
digunakan untuk merapikan gigi bagi mereka behel hanya sekedar gaya. Nekatnya
lagi mereka memakai behel ala kadaranya saja tidak melalui konsultasi dokter
gigi, maklum konsultasi ke dokter gigi cukup mahal. B yang kedua adalah
Blackberry bagi mereka Blackberry dipakai untuk gaya dan sekedar update status
BBM tanpa memahami apa kegunaan asli Blackberry.
Make up salah waktu, kadang muka lebih putih dari
leherModel make up gadis cabe-cabean terkesan dipaksakan.
Saking ngebetnya pengen makeup berlebih dan tidak jarang kulit muka berbeda
dengan warna kutil leher dan badan.
Boncengan bertiga, sambil main HP, ngebut buat cari
perhatian
Diantara sekian ciri yang disebutkan diatas, ciri yang satu ini terbilang cukup berbahaya, mereka suka berkendara sepeda motor dengan membonceng lebih dari dua orang, misalnya tiga orang, bisa juga sampai empat orang, jangan ditiru!. Alih-alih membawa motor dengan hati-hati, mereka justru doyan ngebut dengan harapan dianggap keren oleh orang yang melihatnya. Lucunya lagi, gadis cabe-cabean kerap kali melewati segerombolan pria nongkrong dengan memacu kencang motornya demi menarik perhatian.
Diantara sekian ciri yang disebutkan diatas, ciri yang satu ini terbilang cukup berbahaya, mereka suka berkendara sepeda motor dengan membonceng lebih dari dua orang, misalnya tiga orang, bisa juga sampai empat orang, jangan ditiru!. Alih-alih membawa motor dengan hati-hati, mereka justru doyan ngebut dengan harapan dianggap keren oleh orang yang melihatnya. Lucunya lagi, gadis cabe-cabean kerap kali melewati segerombolan pria nongkrong dengan memacu kencang motornya demi menarik perhatian.
Enggak pernah mengaku cabe
Gadis cabe-cabean tidak pernah mengakui dirinya
sendiri.
Kegiatan wajib hari ini: update status
Kegiatan wajib yang tidak boleh terlewat dari gadis
cabe-cabean adalah update status di media sosial dan instant messaging. Bahkan
biasanya memberi kabar yang penting seakan banyak orang yang peduli. Belum lagi
pemakaian kata-kata yang berlebihan dengan susunan huruf angka dicampur.
Pacaran di sembarang tempat
Mereka akan banyak “bertebaran” di keramaian, kadang
bersembunyi di tempat-tempat gelap. Mereka dengan santai memarkir motor di
pinggiran jembatan layang dan duduk berdempet dengan sang kekasih sambil
menikmati lampu malam kota.
Pasang foto editan
Di foto profil Facebook atau Avatar Twitter akan
terlihat cantik, saat ditemui akan jauh berbeda. Mereka seringkali mengedit
foto diri menjadi lebih putih, lebih mulus dan lebih imut demi menarik
perhatian lawan jenis dan agar bisa bertemu.
Berbaju Minim di Banyak Tempat
baju ketat dan celana pendek adalah ciri khas gadis
cabe-cabean terutama jika naik sepeda motor. Memamerkan paha mereka adalah hal
yang biasa. Kerap kali gadis cabe-cabean begitu percaya diri memakai baju serba
minim dan ketat meskipun tidak cocok.
Penyebab adanya Gadis Cabe-cabean dan Terong-terongan
Banyak faktor yang menyebabkan fenomena ini muncul.
Setidaknya ada tiga faktor utama yang memiliki andil khusus.
Pertama, faktor media. Tak dapat dipungkiri, tayangan di televisi tidak
banyak memberikan tuntunan yang mendidik dan membangun. Khususnya pada segmen
remaja. Gaya hidup yang diperlihatkan dalam sinetron-sinetron atau drama-drama
impor sedikit banyak mempengaruhi remaja kita untuk menirunya. Lihat saja
bagaimana cara berpakaian dan gaya hidup mereka dijiplak habis oleh remaja
putri dalam komunitas cabe-cabean ini.
Kedua adalah faktor keluarga, dalam hal ini adalah orang tua. Pengawasan orang tua
terhadap aktivitas anak tidak boleh lepas begitu saja. Kebutuhan seorang anak
tidak hanya sekedar materi namun juga kasih sayang dan perhatian. Salah satu
mengapa fenomena ini muncul adalah banyaknya remaja-remaja broken home yang
mencari pelampiasan dengan cara-cara negatif.
Ketiga, faktor lingkungan. Lingkungan terdekat dari remaja adalah sekolah dan
teman-teman bergaulnya.
Kita semua sepakat bahwa fenomena ini perlu
mendapatkan perhatian. Tak ada yang menginginkan generasi muda Indonesia
menjadi generasi yang hidupnya sia-sia. Di sisi lain masa remaja menyimpan
potensi yang sangat besar untuk pembentukkan karakter di usia dewasa. Banyak
peran yang bisa kita lakukan dan kita bisa mulai bergerak dari sekarang.
Pertama, peran keluarga. Dari keluargalah penanaman nilai-nilai agama dimulai.
Anak-anak disadarkan bahwa dia diciptakan di dunia ini dengan tujuan khusus,
yakni taqwa. Orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.
Kedua, lingkungan. Masyarakat perlu ikut andil dalam menjaga lingkungan sekitarnya dari
hal-hal semacam ini. Sikap individualis dan apatis harus dibuang jauh.
Tindakkan amar ma’ruf nahyi mungkar tak boleh disepelekan. Ketiga, peran
negara. Perlu ada regulasi atau kebijakan yang menjaga remaja kita. Dari mulai
siaran media, lingkungan, pendidikan, dsb. Jangan sampai kondisi seperti ini
dibiarkan berlarut-larut.
Kita pun harus menyadari bahwa masalah ini adalah efek
domino dari sistem kapitalisme yang diterapkan. Persoalan ekonomi, politik,
hukum, pendidikan, sosial, semuanya adalah mata rantai yang saling berkaitan.
Karena itu upaya jangka panjang yang tak boleh terlupakan adalah mengganti
sistem yang ada dengan sistem yang lebih baik.
Kesimpulanya :
Fenomena cabe cabean dan tawuran di
indonesia ini sebenarnya dapat kita minimalisir dengan berbagai cara yaitu
dengan berbagai aspek, dari pendidikan,masyarakat(lingkungan) ,orang tua dan pemerintah .
pendidikan: menanamkan sikap empati terhadap sesama, memperdalam ilmu agama yang
dianut sehingga saat mereka melakukan tindakan yang menyimpang dari agama,
dapat mengambil keputusan karena dalamnya pengetahuan agamanya, menciptakan
lingkungan yang kondusif di sekolah artinya
mnerapkan peraturan cinta damai dan no tawuran, jika ada yang terlibat tawuran
sekolah dapat bertindak dengan tegas agar para siswa takut untuk tawuran,serta
menerapkan peraturan memakai seragam yang sopan tidak minim,
peran masyarakat
luas :perlu ikut ada untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan mendidik anak’’
usia belasan agar ter arah mempunyai sikap berbudi luhur,sopan santun,dan tak
kalah penting
peran para orangtua orang yang pertama memiliki peran mendidik
anak harus memberikan contoh yang baik menanamkan sikap welas asih,pengetahuan agama , dan memberikan
perhatian yang terus menerus tak berhenti
peran pemerintah: untuk membatasi acara televisi yang tidak mendidik.
Dengan adanya itu semua diharapkan
terciptanya budaya damai, anak’’ belasan (abg) mampu berkembang dalam pergaulan yang baik
,sehingga generasi muda mampu tumbuh dalam karakter yang mempunyai budi
pekerti, hingga mampu membawa negara indonesia menjadi negara maju .
sumber: http://sosiologiantropologiindonesia.blogspot.com/2013/10/analisis-fenomena-tawuran-antar-pelajar.html ,http://unik.kompasiana.com/2014/04/17/fenomena-cabe-cabean-647638.html
Sulistyo wati ambar arum
1ea45
1a214511
sumber: http://sosiologiantropologiindonesia.blogspot.com/2013/10/analisis-fenomena-tawuran-antar-pelajar.html ,http://unik.kompasiana.com/2014/04/17/fenomena-cabe-cabean-647638.html






0 comments:
Post a Comment