saksi dimana nanti malaikat w tersenyum nih :D

arrum . Powered by Blogger.
RSS
Post Icon

FENOMENA TAWURAN DAN CABE CABEAN



FENOMENA TAWURAN DAN CABE CABEAN

Terjadinya tawuran, mengakibatkan norma-norma menjadi terabaikan. Selain itu, menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek hubungan sosial masyarakatnya.. Hampir setiap minggu, berita itu menghiasi media massa. Bukan hanya tawuran antar pelajar saja yang menghiasi kolom-kolom media cetak, tetapi tawuran antar polisi dan tentara, antar polisi pamong praja dengan pedagang kaki lima, sungguh menyedihkan. Sehingga masyarakat indonesia sudah tidak asing lagi untuk mendengar kata tawuran. 

Perilaku anarki selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat. Mereka itu sudah tidak merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan bisa mengganggu ketenangan masyarakat. Sebaliknya mereka merasa bangga jika masyarakat itu takut dengan geng kelompoknya.
Seorang pelajar seharusnya tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu. Biasanya permusuhan antar sekolah dimulai dari masalah yang sangat sepele. Namun remaja yang masih labil tingkat emosinya justru menanggapinya sebagai sebuah tantangan. Pemicu lain biasanya dendam Dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi para siswa tersebut akan membalas perlakuan yang disebabkan oleh siswa sekolah yang dianggap merugikan seorang siswa atau mencemarkan nama baik sekolah tersebut. Sebenarnya jika kita mau melihat lebih dalam lagi, salah satu akar permasalahannya adalah tingkat kestresan siswa yang tinggi dan pemahaman agama yang masih rendah.

Fenomena tawuran antar pelajar yang terjadi disebabkan berbagai pandangan sesuatu yang beda penyebab lain bisa seperti adanya perubahan sosial, adanya perasaan tidak senang atau dendam, perbedaan kepentingan antar individu / kelompok dan juga buruknya komunikasi. Akibatnya dengan adanya konflik tersebut dapat menimbulkan perpecahan, rusaknya sarana dan prasarana umum, meningkatnya keresahan masyarakat, lumpuhnya roda perekonomian, hancurnya harta benda dan jatuhnya korban jiwa. Tetapi dengan adanya konflik memunculkan beberapa akibat positif antaranya meningkatkan solidaritas kelompok, mendorong kekuatan pribadi untuk menghadapi berbagai situasi konflik, munculnya norma baru, mendorong kesadaran kelompok yang berkonflik untuk melakukan kompromi.

Konflik tawuran yang terjadi bila hubungkan dengan teori Lewis Coser yaitu  konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan penyesuaian, dapat memberi peran positif atau fungsi positif dalam masyarakat. Dengan kata lain tawuran yang terjadi tidak hanya memberikan hal-hal negatif terhadap masyarakat, tetapi hal positif dalam situasi tertentu dan kepada siapa positif itu di terima. Tipe konflik dari konflik realitas sumber dari tawuran bisa dari asal usul, sesuatu yang diunggulkan dari siswa, dengan mencemooh, kualitas sekolah. Konflik non realistis sebab tawuran yaitu sumbernya dari ke tidak rasional, ideologis siswa tawuran seperti masalah harga diri, dendam. Selanjutnya konflik eksternal dengan adanya tawuran menciptakan dan mempererat identitas kelompok, meningkatkan partisipasi anggota terhadap pengorganisasian kelompok, perhatian orang tua dan guru dalam mendidik siswa - siswinya. Teori internal dengan memberikan koreksi pada perilaku tawuran anggota kelompok.
Menurut Koentjaraningrat dalam perilaku menyimpang  terdapat pengendalian sosial yaitu dengan : (1) Pengendalian sosial bersifat preventif, adalah semua bentuk pencegahan terhadap terjadinya gangguan pada keserasian  antara kepastian dan keadilan, atau dengan kata lain tindakan preventif adalah tindakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap norma-norma sosial.
 (2) Pengendalian sosial bersifat represif adalah pengendalian sosial yang bertujuan untuk mengembalikan keserasian yang pernah terganggu karena terjadinya suatu pelanggaran. Pengendalian sosial secara represif dilakukan dengan cara menjatuhkan sanksi sesuai dengan besar-kecilnya pelanggaran yang dilakukan.
(3) Pengendalian intrinsik dan ekstrinsik, pengendalian intrinsik adalah pengendalian oleh diri seorang individu dengan berfikir secara jernih, sabar, dan jujur sehingga seseorang tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang menyimpang, di dalam ilmu jiwa, alat pengendali ini dinamakan hati nurani, hati nurani pada dasarnya selalu bersifat jujur dan benar, seakan merupakan petunjuk Tuhan kepada umat-Nya secara abstrak dan  spiritual. Pengendalian ekstrinsik, adalah pengendalian terhadap perilaku menyimpang oleh pihak lain antara lain bisa dilakukan oleh orang tua, keluarga dan kerabat, pihak tokoh agama, dan masyarakat, serta aparatur  negara seperti kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan.
 (4) Pengendalian internal dan eksternal, pengendalian sosial internal adalah pengendalian sosial yang berasal dari dalam lembaga itu sendiri, misalnya pada Departemen Pendidikan Nasional ada aparat pengendali yang di sebut inspektur jenderal / hingga para pengawas di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi, semua bentuk pengawasan ataupun pengendalian yang dilakukan dari dalam lembaganya sendiri disebut pengendalian sosial internal. Pengendalian eksternal, merupakan pengendalian sosial  yang berasal dari luar lembaga, misalnya oleh kepolisian atau oleh tokoh-tokoh masyarakat selaku pengamat  pelaksanaan

Fenomena cabe-cabean booming pada akhir 2013 dan awal 2014 ini.
Mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing lagi dengan fenomena Anak alay dan segala isitilah-istilahnya, mulai dari cara berpakaian hingga cara berbicara. walaupun sempat surut ditahun 2013 kini muncul lagi istilah baru di tahun 2014 yakni gadis Cabe-cabean.
Kini “spesies baru” gadis cabe-cabean diperkenalkan sebagai tren mutakhir. Tidak jelas siapa yang mulai mempopulerkannya. Istilah ini menyebar secara viral dan dikenal luas karena dianggap mencerminkan sejumlah remaja zaman sekarang.
Cabe-cabean adalah sebutan bagi remaja putri yang senang keluyuran malam dan nongkrong di balapan liar. Usia mereka umumnya sama, kisaran SMP dan SMA.
Cabe-cabean sebenarnya hanya merujuk pada gadis belia usia SMP dan SMA yang senang keluyuran malam dan nongkrong di dunia balap liar. Sementara terong-terongan terjadi pada remaja pria disebut dengan fenomena terong-terongan. Umumnya fenomena ini melanda remaja pria usia 13 hingga 18 tahun. Biasanya remaja pria ini senang dengan kehidupan malam, suka tawuran, dan menghisap ganja.
Berikut cara mengenal atau mengidentifikasi Gadis Cabe-cabean.

3B: Behel, Blackberry dan Berponi
Ciri untuk mengenali Gadis Cabe-cabean dan Terong-terongan adalah 3B, Behel, Blackberry dan Berponi. Behel yang asalnya digunakan untuk merapikan gigi bagi mereka behel hanya sekedar gaya. Nekatnya lagi mereka memakai behel ala kadaranya saja tidak melalui konsultasi dokter gigi, maklum konsultasi ke dokter gigi cukup mahal. B yang kedua adalah Blackberry bagi mereka Blackberry dipakai untuk gaya dan sekedar update status BBM tanpa memahami apa kegunaan asli Blackberry.

Make up salah waktu, kadang muka lebih putih dari leherModel make up gadis cabe-cabean terkesan dipaksakan. Saking ngebetnya pengen makeup berlebih dan tidak jarang kulit muka berbeda dengan warna kutil leher dan badan.

Boncengan bertiga, sambil main HP, ngebut buat cari perhatian
Diantara sekian ciri yang disebutkan diatas, ciri yang satu ini terbilang cukup berbahaya, mereka suka berkendara sepeda motor dengan membonceng lebih dari dua orang, misalnya tiga orang, bisa juga sampai empat orang, jangan ditiru!. Alih-alih membawa motor dengan hati-hati, mereka justru doyan ngebut dengan harapan dianggap keren oleh orang yang melihatnya. Lucunya lagi, gadis cabe-cabean kerap kali melewati segerombolan pria nongkrong dengan memacu kencang motornya demi menarik perhatian. 

Enggak pernah mengaku cabe
Gadis cabe-cabean tidak pernah mengakui dirinya sendiri.

Kegiatan wajib hari ini: update status
Kegiatan wajib yang tidak boleh terlewat dari gadis cabe-cabean adalah update status di media sosial dan instant messaging. Bahkan biasanya memberi kabar yang penting seakan banyak orang yang peduli. Belum lagi pemakaian kata-kata yang berlebihan dengan susunan huruf angka dicampur.
Pacaran di sembarang tempat
Mereka akan banyak “bertebaran” di keramaian, kadang bersembunyi di tempat-tempat gelap. Mereka dengan santai memarkir motor di pinggiran jembatan layang dan duduk berdempet dengan sang kekasih sambil menikmati lampu malam kota. 

Pasang foto editan
Di foto profil Facebook atau Avatar Twitter akan terlihat cantik, saat ditemui akan jauh berbeda. Mereka seringkali mengedit foto diri menjadi lebih putih, lebih mulus dan lebih imut demi menarik perhatian lawan jenis dan agar bisa bertemu.

Berbaju Minim di Banyak Tempat
baju ketat dan celana pendek adalah ciri khas gadis cabe-cabean terutama jika naik sepeda motor. Memamerkan paha mereka adalah hal yang biasa. Kerap kali gadis cabe-cabean begitu percaya diri memakai baju serba minim dan ketat meskipun tidak cocok.

Penyebab adanya Gadis Cabe-cabean dan Terong-terongan
Banyak faktor yang menyebabkan fenomena ini muncul. Setidaknya ada tiga faktor utama yang memiliki andil khusus.

Pertama, faktor media. Tak dapat dipungkiri, tayangan di televisi tidak banyak memberikan tuntunan yang mendidik dan membangun. Khususnya pada segmen remaja. Gaya hidup yang diperlihatkan dalam sinetron-sinetron atau drama-drama impor sedikit banyak mempengaruhi remaja kita untuk menirunya. Lihat saja bagaimana cara berpakaian dan gaya hidup mereka dijiplak habis oleh remaja putri dalam komunitas cabe-cabean ini.

Kedua adalah faktor keluarga, dalam hal ini adalah orang tua. Pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak tidak boleh lepas begitu saja. Kebutuhan seorang anak tidak hanya sekedar materi namun juga kasih sayang dan perhatian. Salah satu mengapa fenomena ini muncul adalah banyaknya remaja-remaja broken home yang mencari pelampiasan dengan cara-cara negatif.

Ketiga, faktor lingkungan. Lingkungan terdekat dari remaja adalah sekolah dan teman-teman bergaulnya.
Kita semua sepakat bahwa fenomena ini perlu mendapatkan perhatian. Tak ada yang menginginkan generasi muda Indonesia menjadi generasi yang hidupnya sia-sia. Di sisi lain masa remaja menyimpan potensi yang sangat besar untuk pembentukkan karakter di usia dewasa. Banyak peran yang bisa kita lakukan dan kita bisa mulai bergerak dari sekarang.

Pertama, peran keluarga. Dari keluargalah penanaman nilai-nilai agama dimulai. Anak-anak disadarkan bahwa dia diciptakan di dunia ini dengan tujuan khusus, yakni taqwa. Orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.

Kedua, lingkungan. Masyarakat perlu ikut andil dalam menjaga lingkungan sekitarnya dari hal-hal semacam ini. Sikap individualis dan apatis harus dibuang jauh. Tindakkan amar ma’ruf nahyi mungkar tak boleh disepelekan. Ketiga, peran negara. Perlu ada regulasi atau kebijakan yang menjaga remaja kita. Dari mulai siaran media, lingkungan, pendidikan, dsb. Jangan sampai kondisi seperti ini dibiarkan berlarut-larut.
Kita pun harus menyadari bahwa masalah ini adalah efek domino dari sistem kapitalisme yang diterapkan. Persoalan ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sosial, semuanya adalah mata rantai yang saling berkaitan. Karena itu upaya jangka panjang yang tak boleh terlupakan adalah mengganti sistem yang ada dengan sistem yang lebih baik.

Kesimpulanya :
Fenomena cabe cabean dan tawuran di indonesia ini sebenarnya dapat kita minimalisir dengan berbagai cara yaitu dengan berbagai aspek, dari pendidikan,masyarakat(lingkungan) ,orang tua dan pemerintah .
 pendidikan: menanamkan sikap empati terhadap sesama, memperdalam ilmu agama yang dianut sehingga saat mereka melakukan tindakan yang menyimpang dari agama, dapat mengambil keputusan karena dalamnya pengetahuan agamanya, menciptakan lingkungan yang kondusif  di sekolah artinya mnerapkan peraturan cinta damai dan no tawuran, jika ada yang terlibat tawuran sekolah dapat bertindak dengan tegas agar para siswa takut untuk tawuran,serta menerapkan peraturan memakai seragam yang sopan tidak minim, 
peran masyarakat luas :perlu ikut ada untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan mendidik anak’’ usia belasan agar ter arah mempunyai sikap berbudi luhur,sopan santun,dan tak kalah penting
 peran para orangtua orang yang pertama memiliki peran mendidik anak harus memberikan contoh yang baik menanamkan sikap  welas asih,pengetahuan agama , dan memberikan perhatian yang terus menerus tak berhenti
peran pemerintah: untuk membatasi acara televisi yang tidak mendidik.
Dengan adanya itu semua diharapkan terciptanya budaya damai, anak’’ belasan (abg) mampu berkembang dalam pergaulan yang baik ,sehingga generasi muda mampu tumbuh dalam karakter yang mempunyai budi pekerti, hingga mampu membawa negara indonesia menjadi negara maju .

Sulistyo wati ambar arum
1ea45
1a214511

sumber: http://sosiologiantropologiindonesia.blogspot.com/2013/10/analisis-fenomena-tawuran-antar-pelajar.html ,http://unik.kompasiana.com/2014/04/17/fenomena-cabe-cabean-647638.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment